Sabtu, 21 Agustus 2010

KACA HELM KUNING


Sejak resmi jadi biker 1 tahun yang lalu, aku lengkapi diriku dengan dengan segala sesuatu yang menyamankan kegiatanku diatas roda dua itu. Termasuk didalamnya punya helm yang gayanya retro klasik. Seneng sih liatnya keren!!! Terinspirasi pas hadir di satu acara jambore scooter di Bandung sempet liat orang pakai helm jenis ini. Eyes catchy banget dan biasalah…. hati berasa adem melihatnya… bukan karena ngiri loh!

Cari tahu kanan-kiri, ditemani tetangga rumah yang anak vespa, kami hunting di deretan toko assesoris di jalan Otista kawasan Kp.Melayu.. eh .. ternyata ketemu helm merek Davida ini. Banyak macamnya sih tapi berhubung sudah ubek-ubek ke banyak toko yang nuansa hitam putih cuma 1 model ya  apa boleh buat ditebus deh pake duit 80rb rupiah. Sebenarnya yang menarik dari helm davida ini adalah ada kelengkapan tambahannya berupa kaca helm yang lucu gembung warna warni. Ada bening, kuning, hijau, biru dan hitam. Aku sempet bingung sebelum akhirnya putuskan pilih warna kuning.

Kenapa warna itu ? Kalau bening ngak beda banyak dong sama yang biasa standar bawaan helm, yang hitam/dark juga sama umumnya. Hijau? ntar mata duitan (apa hubungannya coba). Biru ? kalau naik motornya malam nanti visi tambah gelap  malah ngak bisa lihat jalan dan rambu lalu lintas. Kuning? Worthed for gamble deh… lagian kuning kan warna kesukaan idola saya tercinta. Ternyata mau gaya itu tidak murah.. kaca kuning foggo itu sebanding sama harga helmnya. Bawa 1 helm bayar harga 2 helm.

Sampai satu minggu pemakaian masih adaptasi sama helm jenis ini dan warna kuningnya. Memang harga tidak pernah bohong.. helm ini enak dipakai dan nyaman karena si kaca itu dengan mudahnya diangkat dan ditutup secara independen, mudah dan terencana, jadi kalau sudah diangkat naik ya tetap stay tidak turun dengan sendirinya. Pas perlu pandangan normal, perlu perlindungan mata dari debu dan sinar matahari ya turunin lagi donk, gitu aja kan ngak repot. Tapi tetap belum berani keluar malam pakai helm ini. Sampai suatu hari pulang kantor kemalaman mau ngak mau musti dicoba dan begitu dirasakan ternyata helm ini enak juga dipakai buat malam hari karena kuningnya ternyata memfiltrasi sinarlampu sehingga jatuhnya lunak di mata tidak menusuk. Tahu sendiri lampu mobil jaman sekarang terang banget sorotannya. Asik ternyata, bisa gaya sekaligus aman & nyaman.

Sayangnya memang harus ada yang dikorbankan yaitu visi pandangan menjadi kuning, terang sih tapi tetap tidak sejelas kaca yang bening. Sampai akhirnya ada kebijakan Pemerintah tentang helm SNI akhirnya si davida foggo aku lengserkan menjadi helm cadangan buat pembonceng yang seringnya adalah istriku sendiri.

Bercermin dari visi helm kuning aku teringat dengan hidupku sendiri. Perjalanan sudah hampir 40 tahun proses belajar dan belajar. Banyak visi, misi dan mind set yang sudah aku coba dan terapkan. Mencoba berkenalan dengan kebenaran, mengetahui ciri-ciri dan tanda-tandanya dalam rangka mencari Tuhan. Try & error dan reset berkali-kali untuk banyak pemikiran dan metodologi. Banyak perdebatan dan pergulatan pemikiran yang sudah dialami. Sekarang sepertinya saya disadarkan oleh helm kuning bahwa saya sering sekali memilih sesuatu berdasarkan apa yang menjadi selera saya, membuat kriteria berdasarkan kecendrungan terhadap apa yang paling kita suka, mendefinisikan  kebenaran sesuai dengan hati kita sampai akhirnya suatu yang lebih kuat memaksakan kehendaknya kepada kita dengan sanksi yang jelas dan tegas. Bingung ya bacanya?.... Kaitannya dengan wajib helm SNI oleh aturan Pemerintah NKRI.

Padahal jauh-jauh hari kita tahu bahwa kriteria yang benar itu biasanya sudah didefinisikan berdasarkan fakta dan logika. Sudah tahu kenapa harus pakai helm dan sudah tahu bahwa kriteria helm yang bagus itu apa saja, dan sudah tahu bahwa suatu saat kita akan dipaksa untuk memakai kriteria itu. Tapi tetap aja selera hati yang bicara selama masih ada waktu untuk memilih.

Makin aku pikirkan makin aku takut... Untuk situasi yang sama tapi bila object helm diganti dengan pandangan hidup/agama bagaimana jadinya bila agama di pilih dan jalankan sesuai selera hati kita sendiri?

Sejak jauh hari aku sadari hidupku untuk mencari Tuhan .. menempatkan diri dalam koridor kemauan-Nya.. sehingga aku menemukan bahwa sang penterjemah kemauan-Nya adalah Rasulullah Saw. Akhirnya aku putuskan bahwa dalam hidupku kalau Allah SWT dan Rosullullah Saw sudah memilihkan sesuatu untukku, aku tak akan mencari pilihan lain. Sekarang tinggal aku berjuang untuk menemukan petunjuk-Nya yang tersebar dan terpapar didepan mata. Mengenali tanda-tanda dan fakta itu dengan kaca yang bening tentunya bukan dengan kaca helm kuning, merah, biru atau kelabu dan merah muda senyaman apapun kaca-kaca berwarna itu dimata. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar